7.6.17

Surat-Surat yang Terlambat Sampai - Majalah Gadis


Aku menunduk gamang sambil memegang kertas di tanganku. Kelas masih sepi. Hanya ada seorang saja yang menemaniku sambil matanya menatap tajam ke arah kertas yang ada dalam genggamanku. Milli. Cewek berkulit putih itu, teman sebangkuku sejak duduk di kelas sepuluh IPA Satu.
            “Apa susahnya menyelidiki, tentang seseorang yang telah menaruh surat-surat itu di lokermu? Jangan-jangan… secret admirer…” kata-kata terakhir Milli yang dibisikkannya di telinga kiriku itu sungguh mengagetkanku. Aku hampir terlonjak karenanya.
            “Percuma, Mil. Tulisan dengan huruf terbalik-balik itu, tak kumengerti sama sekali maknanya.” Aku melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas.
            ”Tapi ini sudah keempat kalinya!”

            Bel keburu berbunyi. Teman-teman yang tadi bercengkerama di luar, serentak masuk ke dalam kelas, mengambil tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti pengunjung yang sudah lama antri untuk memasuki Wahana Kora-kora di Dufan. Bu Tari, guru Fisika itu sudah masuk ke ruang kelas. Kayon juga. Cowok kidal yang selalu menatapku dengan sengit itu. Sejak ia memergokiku sedang menggunjingkan ’kelebihan’ tangan kirinya itu di kelas, ia sepertinya membenciku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke tembok, begitu tatapanku bersirobok dengan mata sipit Kayon. Tentu saja sebelum aku gelagapan, karena dipanggil secara mendadak oleh Bu Tari untuk mengerjakan PR nomer satu di depan kelas.
@@
            Aku tetap melanjutkan hidupku, dan tak terganggu lagi dengan kedatangan surat-surat aneh yang tak terbaca, karena hurufnya yang serba terbalik itu. Sampai suatu siang, Milli berlari-lari kecil menjumpaiku. Mulutnya masih terengah saat ia berteriak antusias kepadaku.
            ”Humprah... Demi hadiah yang kamu janjikan kapan hari itu, aku akhirnya bisa memecahkan teka-teki surat di lokermu!”
            ”Jadi siapa pengirimnya?”                                                                                           
            ”Siapa lagi? Kayon!”
          
  Dengan menggebu, Milli mengungkapkan teorinya. Penjelasannya sudah seperti penjelasan Bu Tari saat menjelaskan hukum kekekalan energi. Teorinya tentang ’Mirror Writing’ benar-benar berhasil membuatku ternganga. Tulisan dalam kertas-kertas yang beberapa hari belakangan telah menjadi tamu di lokerku, memang sulit dibaca dengan mata telanjang. Namun, lain halnya apabila dibaca melalui cermin.
            ”Kenapa harus dibaca dengan cermin?” Mukaku mungkin terlihat sangat bodoh saat menanyakan hal itu di depan Milli yang berotak cemerlang.
            ”Kamu pernah melihat mobil Ambulance? Kenapa tulisan Ambulance yang ada di depan mobil selalu terbalik?” tanya Milli berapi-api.
            ”Agar pengemudi yang ada di depan mobil ambulance segera memberi jalan. Sifat cermin adalah menciptakan ’bayangan’ yang berkebalikan dengan obyeknya, kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan. Pengemudi yang ada di depan ambulance akan membaca tulisan AMBULANCE dengan jelas dari kaca spion,” jawabku diplomatis.
”Nah! Sekarang mari kita baca bersama-sama, tulisan dalam surat-surat yang nyasar ke lokermu itu melalui cermin!” ajak Milli dengan antusias.
            ”Tapi tunggu!! Apa hubungannya dengan Kayon coba?” aku masih saja belum mengerti dengan jalan pikiran sahabatku itu.
         
   Milli menatapku dengan gemas. Lalu ia menjelaskan bahwa cara menulis dengan huruf terbalik-balik tersebut ada kaitannya dengan kekidalan Kayon. Seseorang yang kidal, secara alami memiliki cara menulis dengan teknik dari kanan ke kiri. Huruf yang ia goreskan, juga akan ditulis terbalik secara horisontal.
            ”Kamu pernah membaca artikel tentang lukisan ’Vitruvian Man’ yang dibuat oleh Leonardo da Vinci? Catatan di atas dan di bawah lukisan tersebut sulit dibaca dengan mata telanjang, namun sangat jelas dibaca melalui cermin. Mirror Writing, Isya! Leonardo juga seorang kidal! Kamu masih bertanya apa hubungannya dengan Kayon?”
            Lagi-lagi aku cuma bisa menggeleng bodoh. Milli bertambah gemas. Referensi pengetahuan yang kumiliki memang sangat payah, kalau dibandingkan dengan Milli yang kutu buku itu.
@@
          
  Maka sore itu sepulang sekolah, aku dan Mili segera sibuk menerjemahkan teka-teki isi surat yang sengaja dimasukkan seseorang ke dalam lokerku. Kami duduk bersisian di sebuah kamar yang penuh berjejalan dengan buku-buku. Tentu saja di kamar Milli, yang hanya beda-beda tipis dengan kios lapak buku bekas yang ada di sepanjang Jalan Stadion Selatan.
            AKU MENYAYANGIMU, SELALU.
            Kami membaca kalimat pendek dalam surat pertama yang dikirim ke lokerku. Mataku saling bertatapan dengan mata Milli, sebelum akhirnya tawa Milli meledak, membuat wajahku yang semula dipenuhi rasa penasaran menjadi cemberut seketika.
            ”Astaga naga... jadi diam-diam Si Introvert itu naksir sama kamu, Isyana?” tanya Milli setelah berhasil meredakan tawanya. Namun senyum jahil masih menghiasi wajahnya.
            Aku meraih bantal dan memukul punggungnya dengan gemas. Milli mengaduh-aduh sambil memintaku untuk meneruskan membaca isi surat yang kedua. Aku menyetujui permintaannya dengan satu syarat: Ia tak lagi menertawakanku.
        
    TOLONG, MAAFKANLAH AKU. PLEASE! AKU INGIN BERBUAT YANG TERBAIK UNTUKMU.
         
   ”Ini justru terbalik, Milli. Seharusnya aku yang minta maaf kepada Kayon. Bukankah aku yang selalu mengejek kekidalannya? Bahkan membicarakan keanehannya itu di belakang dia?”
            ”Tunggu dulu Isya. Mungkin ia meminta maaf justru untuk ’memberi muka’ kepada orang yang sudah berbuat salah.”
            ”Memberi muka? Maksudmu?”
            ”Iya, dia kan tertarik kepadamu. Makanya dia nggak mau mempermalukanmu dengan menyuruhmu meminta maaf kepadanya di depan teman-teman. Itu namanya berjiwa besar.”
            Aku mengangguk-angguk, meskipun sejatinya kurang mengerti dengan penjelasan Si Jenius itu. Ah, biarlah lain kali akan kutanyakan. Sekarang lebih baik meneruskan lagi dengan membaca surat yang ketiga dan keempat.
            BAGAIMANA KALAU HARI INI KITA KETEMU DI KAFE JINGGA? MEJA NOMER 13, SUDUT KAFE.
        
    ”Dia mengajakmu kencan, Isya. Tapi ini sudah seminggu yang lalu. Sudah terlambat untuk datang.” Tak ada ekspresi mengejek dari muka Milli. Yang ada justru ekspresi penyesalan. Entah kenapa hatiku jadi berdebar-debar. Kayon mengajakku untuk bertemu? Ini sungguh berita yang luar biasa. Aduh Mama... tidakkah ia tahu, bahwa alasanku sering membicarakannya, justru karena aku juga sangat tertarik kepadanya?
            AKU INGIN MENITIPKAN KEHIDUPANKU DI TUBUH MAMAMU. DENGAN BEGITU KITA AKAN SELALU BERSAMA.
      
      ”Kalimat dalam surat terakhir agak aneh, Mil. Kayon dan Mamaku belum saling kenal!” Kutatap wajah sahabatku dengan seksama. Berharap otaknya yang cemerlang itu akan berhasil memecahkan maksud Kayon dengan isi suratnya yang keempat itu.
            ”Bisa saja Kayon itu anak dari sahabat Mamamu? Kamu kan tidak pernah tahu dan selalu tidak mau tahu?”
            Aku melengos mendengar sindiran Milli itu.
            ”Iya.. iyaaaa.... Sekarang apa saranmu?” tanyaku penuh harap.
            ”Temui Kayon! Tunjukkan surat-surat itu.”
            Mataku membeliak lebar mendengar usul Milli yang tak masuk akal itu. Aku, menemui Si Introvert itu? Beuh...
@@
            Pertemuan antara aku dan Kayon akhirnya terjadi juga. Di kafe Jingga, seperti yang telah ditulisnya di surat yang ketiga. Tentu saja dengan bantuan Milli. Selain pintar, ternyata Milli juga berbakat sebagai Mak Comblang. Hahay... aku hampir tersedak mendengar kata-kata itu. Di jaman secanggih ini, dengan fasilitas banyak social media, ternyata kencanku dengan seorang cowok masih diatur oleh seorang Mak Comblang.
Tetapi tidak seperti saat memecahkan soal matematika dan fisika. Untuk urusan memecahkan kebekuanku dengan Kayon, Si Milli telah mengalami kegagalan yang fatal.
”Aku tidak pernah menulis surat-surat yang kau tunjukkan itu!”

Mataku terbeliak mendengar jawaban Kayon itu, sebelum kemudian meredup. Setelah dengan susah payah, aku menjelaskan arti kalimat demi kalimat dari surat-surat itu, dia malah membantahnya? Aku betul-betul menjadi salah tingkah di depannya. Kalau ada jus wortel yang dikombinasikan dengan buah tomat, mungkin paras mukaku sudah sewarna dengan itu. Parah betul. Dalam hati, aku mengutuk habis-habisan usul dari Milli.
”Jadi kamu nggak menginginkan pertemuan kita di kafe ini?” kuberanikan bertanya lagi, sambil menatapnya sekilas.
Lagi-lagi Kayon menggeleng sambil mengangkat bahu. Mukanya datar banget. Beuhhh...
Pertemuan itu berakhir dengan punggung Kayon yang bergerak menjauhiku. Aduh Mama.... Mau ditaruh di mana mukaku kalau nanti bertemu dengan Kayon lagi?
@@

Hari ini aku tak melihat Kayon di kelas. Juga hari berikutnya. Kupikir ini lebih baik untukku, setelah peristiwa memalukan di Kafe Jingga tempo hari. Kata ketua kelas, Kayon pindah ke Singapura untuk menemani Mamanya yang menderita penyakit ginjal kronis dan sedang berobat ke sana. Siapa yang peduli? Aku sudah move on dari cowok Introvert itu, meskipun bayangannya terkadang sesekali masih suka melintas di pikiranku. Tapi lagi-lagi justru Milli yang mengusik ketenangan hidupku.
”Hey... Jadi kamu sudah nyerah Sya?”
”Maaf, ini tentang apa ya? Kalau tentang Si Kayon...”
”Dia sudah pergi, Isya. Forget him. Tapi ini masih tentang surat-surat yang ada di lokermu. Kemarin sore sepulang rapat OSIS, tanpa sengaja aku melihat seorang adik kelas memasukkan sehelai kertas ke lokermu. Wajahnya cantik, meskipun agak pucat.”
”Hah? Jadi pelakunya cewek? Jangan-jangan dia penyuka sesama....”
Milli buru-buru menutup mulutku dengan telunjuknya yang lentik. Kalimat-kalimat bijaksana segera berhamburan dari bibirnya. Agar aku berpikiran positif, agar bersedia membantunya menyelesaikan masalah pelik itu. Hai... surat-surat itu kan masalahku, kenapa justru Milli yang repot? Dasar sok detektif.

”Ayolah Isya, paling tidak kita harus mengetahui isi surat yang kelima yang ditulis gadis itu. Siapa tahu, kita akan mendapatkan jawaban dari suratnya yang kelima?”
”Itu lebih seperti memo, Mil. Surat kok tidak ada identitasnya. Dari siapa? Untuk siapa?” keluhku beruntun. Aku sudah kepalang patah hati, menyadari bahwa Kayon tak ada hati kepadaku.
Aku masih ingin mengomel panjang pendek, ketika lenganku sudah digamit oleh lengan Milli. Ya Tuhan... gadis kawan akrabku itu menyeretku dengan setengah memaksa. Ke mana lagi kalau bukan ke arah loker.
Lalu seperti biasanya, kertas dengan huruf terbalik-balik itu berhasil dibaca oleh Milli dengan bantuan cermin.
KE MANA, KAK KAYON DUA HARI INI? KUTUNGGU KAKAK HARI INI DI KAFE JINGGA PUKUL LIMA SORE. JANGAN TERLAMBAT, JANGAN PULA DATANG LEBIH AWAL. AKU AKAN MENJELASKAN ALASANKU MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA.
Aku dan Milli saling berpandangan. Jadi gadis itu mantan kekasih Kayon. Tetapi kenapa ia salah meletakkan suratnya dalam lokerku?
”Lokermu bersebelahan dengan loker Kayon. Gadis itu telah salah sejak awal dalam meletakkan surat-suratnya. Bukankah kau juga pernah melakukan kesalahan yang sama?”
Milli seperti bisa membaca jalan pikiranku. Aku jadi ingat, dulu pernah beradu mulut dengan Kayon, gara-gara salah meletakkan tasku di lokernya, sehingga ia terpaksa meletakkan tasnya di lokerku. Aku manggut-manggut.
”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.
”Kita temui gadis itu nanti sore di Kafe Jingga”
@@

Dan, di sinilah aku. Di Merlion Park, di pinggir Singapore River, seberang gedung Esplanade. Aku berjanji untuk bertemu dengan Si Introvert itu di dekat patung Merlion. Untuk apa lagi, kalau bukan untuk urusan kelima surat untuknya yang nyasar ke lokerku.
Dua hari sebelumnya, aku dan Milli telah bertemu dengan gadis itu. Rauda namanya. Ia begitu terkejut melihat kedatanganku dan juga Milli di Kafe Jingga. Setelah Milli menjelaskan tentang kelima suratnya yang salah alamat, Rauda pun mulai bercerita. Tentang ia dan Kayon yang sama-sama kidal. Tentang pertemuan mereka di club ANTARI (Anugerah Tangan Kiri). Lalu mereka saling jatuh cinta, sebelum akhirnya Rauda memutuskan Kayon secara sepihak, tanpa ada satu penjelasan pun kepada cowok itu.
”Jadi, apa alasanmu memutuskan hubungan?” tanyaku tanpa basa basi. Milli menyodok perutku dan aku meringis karenanya.
”Aku tak mau membuatnya sedih Kak, karena hidupku tak akan lama lagi. Aku penderita Paru-paru Obstruktif Kronis,” jelasnya sambil menunduk.
Rauda mengirimkan surat-surat pendek itu, karena ingin meminta maaf kepada Kayon. Ia juga ingin menjelaskan alasannya meminta putus dari Kayon. Dan satu lagi yang lebih penting, ia ingin menyumbangkan ginjalnya kepada Mamanya Kayon, bila kematian telah menjemputnya.
Entah kenapa hatiku tiba-tiba berdesir. Aku jadi terkepung oleh rasa haru dan merasa kasihan dengan nasib gadis itu. Di depan Milli, aku berjanji akan menemukan Kayon di Singapura, untuk menyerahkan surat-surat yang telah ditulis oleh Rauda. Lalu Rauda juga mengutarakan niatnya untuk menuliskan selembar surat lagi dan menitipkannya kepadaku. Berdua dengan Milli, kutunggui gadis itu menulis surat.

Kugenggam erat surat yang dititipkan oleh Rauda untuk Kayon. Kemarin, seperti anak kecil, aku membujuk Mama agar diperbolehkan ikut terbang ke Singapura. Sebetulnya, Mama sering menawariku untuk ikut, saat Mama sedang ada urusan ke Singapura. Seminggu dua kali, Mama pergi ke Singapura untuk bertemu dengan rekanan bisnisnya. Mama keheranan, karena sebelum-sebelumnya aku selalu menolak ajakannya, dengan alasan tak mau ketinggalan pelajaran.
”Ini menyangkut urusan kemanusian, Ma. Please!” Mama hanya tersenyum sambil mengucel rambutku. Jadilah aku ke Singapura dengan penerbangan yang pertama.
Setengah jam sudah aku menunggu kedatangan Kayon. Aku hampir putus asa, ketika tiba-tiba kulihat kelebat bayangan tubuhnya, dari arah gedung Esplanade, sedang menyeberangi jembatan menuju ke Merlion Park. Aku berhasil meneleponnya, setelah mendapatkan nomer ponsel Kayon dari pegawai Tata Usaha sekolah. Tentu saja dengan bantuan Milli.

”Kamu ingin menemuiku untuk sebuah urusan penting? Urusan apa?” tanya Kayon dingin.
”Tentang surat-surat itu, ehm...”
”Bukankah urusannya sudah selesai? Bukan aku yang menulis surat-surat itu.”
”Iya, memang bukan kamu, tapi seorang gadis bernama Rauda.. Sekarang aku membawa surat yang kelima dan keenam untukmu.”
Mendengar kata Rauda, mata Kayon terlihat lebih menyipit, lalu kedua bibirnya mengatup seperti menahan sebuah kesedihan. Aduh.. Mama. Kenapa aku masih merasa cemburu? Kembali kusadari bahwa ternyata aku telah gagal move on. Kuserahkan kedua surat Rauda tanpa berani menatap wajahnya lagi.
Untuk beberapa jenak ia terdiam setelah membaca surat, lalu mengambil napas panjang.
”Apa yang dikatakan Rauda?” tanyaku tak sabaran, meskipun aku sudah bisa menduga-duga tentang isi surat Rauda yang terakhir.
”Ia ingin menyumbangkan ginjalnya untuk Mama,” bisik Kayon hampir tak terdengar.
Aku menggigit bibir tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sejenak aku dan Kayon sama-sama terdiam, sebelum dering ponsel dari tas punggungku mengacaukannya. Ternyata dari Milli.

”Isya, Rauda meninggal dunia Sya. Kamu harus bisa mengajak Kayon pulang!” Ucap Milli dari sebrang sana sambil diselingi tangis. Aku berusaha menghentikan tangis Milli sambil menanyakan kebenaran berita itu. Dan berita dari Milli ternyata benar. Lututku tiba-tiba goyah. Telepon belum sempat kututup karena mendadak tanganku terkulai lemas. Tak tahu lagi aku bagaimana caranya menyampaikan berita itu kepada Kayon.
”Telepon dari siapa?”
”Dari Milli. Rauda sudah... meninggal... Kay,” ucapku lirih dan terbata. Maafkan aku, karena terlambat menyampaikan surat-surat itu. Lanjutku dalam hati.
Yang terjadi selanjutnya adalah dua tubuh yang diam membeku seperti patung ikan berkepala singa di Merlion Park. Aku tak bisa mengira sebesar apa perasaan kehilangan yang sedang melanda hati Kayon. Sekarang ia telah kehilangan Rauda. Mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan Mamanya yang tak kunjung mendapatkan pendonor ginjal. Yang jelas, perasaan bersalahku ribuan kali lebih besar. Jauh melebihi perasaan bersalahku saat menggunjingkan ‘kelebihan’ tangan kirinya itu bersama teman-teman di kelas beberapa waktu lalu.@end@



9.3.17

Suatu Hari Nanti - Cerma Minggu Pagi


            
            Suatu hari nanti Za, kau akan tahu bahwa kau seperti Oksigen. Aku membutuhkanmu, tapi kau berikan kebaikanmu untuk semua orang. Dan saat kau tahu hal itu, kau justru akan menjauhiku. Aku terlalu posesif? Tidak juga. Aku sahabatmu sejak kecil. Kata Mama, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Mamaku dan Bundamu saling bersahabat, dan dua sahabat itu mengandung dalam waktu yang hampir bersamaan. Kelahiran kita pun hanya berselisih hari. Persahabatan kedua ibu kita ternyata diwariskan kepada kita.  

            Kau dan aku tumbuh dan melewati masa kanak-kanak bersama. Kau  pasti mengingatku sebagai seorang anak yang cengeng. Aku juga mengingatmu sebagai seseorang yang selalu ingin melindungiku.
            Tapi yang paling aku ingat betul, justru pertemuan terakhir kita sebelum aku pergi ke sebuah Rumah Sakit besar di Semarang. Waktu itu kita sedang duduk-duduk di taman kompleks. Hari menjelang sore. Cahaya matahari menerobos celah-celah daun flamboyant dan jatuh di rambutmu. Efeknya, rambutmu jadi kelihatan memerah seperti rambut jagung. Sungguh, aku menyukai warna rambutmu yang tersepuh oleh cahaya matahari.

            Aku menawarimu bola-bola coklat yang kubuat bersama Mama. Kau mengambil satu dan menggigitnya sedikit, sekedar untuk menyenangkanku. Aku tidak pernah lupa, Za. Kau tidak menyukai coklat. Tapi demi aku, kau bahkan mengulumnya, sampai lama. Kau biarkan coklatnya melumer di mulutmu.
            Kau tersenyum. Kau bilang tidak ada makanan gratis yang tidak enak. Apalagi jika dibuat oleh sahabat sendiri. Aku membalas senyummu sambil menatap binar matamu yang penuh kebohongan itu. Mulutmu bisa membohongiku tapi matamu tidak. Kau kembali menekuri halaman-halaman bukumu.

            Kau tidak menyadari bahwa kau adalah oksigen bagiku, Za. Kau yang bisa mengerti tentang kesukaanku, kebiasaanku, perbedaanku dari anak-anak yang lain. Kau memahamiku. Maka aku juga berusaha memahamimu. Kau masih ingat saat kau mengajakku berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di atap rumah Pak Kunto? Kau mengajakku untuk meminta ijin kepada Pak Kunto, tapi aku menolaknya.  Aku terlalu penakut. Aku lebih rela untuk membuka tabunganku, membeli seutas layang-layang lengkap dengan benangnya lalu menyerahkannya kepadamu. Matamu berbinar kala itu.

            “Kau bahkan membelikan yang lebih besar Sal?” tanyamu yang tak membutuhkan jawaban dariku. Lalu kau mengajakku menerbangkan layang-layang itu bersama. Aku mengikuti langkahmu menuju ke lapangan kompleks. Aku tahu, kau ingin agar aku menyukai permainan itu. Dan aku berusaha menyukainya karenamu.

            Mama selalu menyuruhku untuk meneladanimu, Za. Kepintaranmu, keberanianmu, kelincahanmu. Aku mengagumimu, tapi aku tak bisa menjadi seperti dirimu. Aku tetap pemurung, pendiam dan lebih suka menyendiri.
            Waktu terus berjalan membawa kita keluar dari dunia kanak-kanak yang damai dan berwarna. Kau tumbuh menjulang, Za. Mama menjadi iri dengan pertumbuhan tubuhmu.
            “Kau harus lebih banyak berolah raga, Sal. Lihat itu si Reza, tubuhnya atletis kan? Mau Mama ikutkan les karate?”

            Aku hanya menggeleng.
            Lain kali Mama akan bilang, “Kau harus lebih berani, lebih banyak bergaul. Lihat tuh, Reza terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya.”
             Aku kurang suka dibanding-bandingkan seperti itu. Apakah seseorang yang memiliki rasi bintang sama harus memiliki sifat yang sama pula? Tentu saja pertanyaan itu hanya kusimpan dalam hati, tanpa berani mengungkapkannya kepada Mama. Bahkan perasaan asing dan aneh yang selama ini menggangguku, tak berani kuungkapkan kepada Mama.

            Ada yang berubah setelah kita remaja, Za. Kau mulai jarang bermain ke rumah karena memiliki teman-teman yang baru. Aku tahu, kau begitu cemerlang, sehingga mampu menembus sekolah favorit seperti yang dikehendaki Bundamu. Sementara aku tidak bisa. Aku semakin terpuruk dalam duniaku yang asing, yang sungguh berbeda dari duniamu.
            Kau mulai mengajak teman-temanmu ke rumah. Teman-temanmu yang juga sesempurna dirimu. Kau mulai sibuk dengan teman-temanmu dan perlahan melupakanku. Waktumu mulai berkurang banyak untukku. Kau oksigen Za, dan aku manusia biasa. Aku mulai belajar meredakan kesakitan ini karena kehilanganmu.
            Sebetulnya pertemuan terakhir itu digagas oleh Mama. Mama ingin aku bahagia di saat terakhirku sebelum aku masuk rumah sakit. Lalu Mamaku menemui Bundamu. Mengemis sedikit waktuku agar mau menemuiku. Kau terkejut saat kuceritakan apa yang sedang aku alami. Namun kau berusaha memasang wajah datar. Tapi matamu tak bisa membohongiku. Apakah kau merasa kehilangan, Za? Tentu saja tidak. Kau oksigen dan kau memiliki banyak teman. Justru aku yang akan kehilanganmu nantinya, setelah aku memutuskan untuk menjauhimu. Setelah aku merelakan untuk meninggalkan dunia yang asing ini. Dunia yang membuatku terombang-ambing dalam ketidak pastian rasa.
            Kau menyerahkan buku yang tengah kau baca di saat pertemuan terakhir kita. Buku psikologi tentang kiat-kiat menjadi seorang remaja yang keren. Aku tersenyum. Mencoba mengungkapkan rasa terima kasihku tanpa kata.

             Kau bertanya kenapa aku harus melakukan operasi itu Za? Aku tak bisa menjelaskannya secara gamblang. Kau seharusnya tahu, sejak dulu aku kurang pandai merangkai kata-kata. Seandainya kau tahu, betapa terpukulnya Mama saat menjumpaiku mencuri-curi baju miliknya untuk kupakai. Lalu kujalani serangkaian konsultasi dengan konselor kesehatan mental profesional untuk melakukan diagnosis dan psikoterapi. Diagnosis dari gangguan disforia gender dan surat rekomendasi resmi dari terapis membolehkanku untuk melakukan terapi hormon di bawah pengawasan dokter. Setelahnya, Mama memutuskan untuk menuruti anjuran dokter untuk melakukan operasi.

            Dan sekarang aku telah menjadi seseorang yang berbeda. Suatu hari nanti Za, kalau

 kita sempat bertemu, semoga kau tetap bisa memahamiku seperti dulu. Meski kau tak bisa 

lagi memanggilku Salman Ferdian. Karena pengadilan telah memutuskan aku untuk berganti 

nama menjadi Salma Ferdiana. 

Air Mata yang Terperangkap Dalam Sepotong Kue - Suara Merdeka


A Ma masih di kelenteng – melakukan sembahyang untuk leluhur –  ketika Lilian sibuk mengelus-elus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan  tidak mengikuti  langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.
            Ini hari terakhir sebelum tahun baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut datangnya sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut. 

            “Kau tahu, kue keranjang tidak selamanya manis?”
            Lilian meraba potongan kue keranjang yang ada dalam genggamannya. Ia berusaha memercayai setiap ucapan yang keluar dari bibir A Ma, meskipun terkadang sulit.
            “Ada kesedihan yang terperangkap dalam sepotong kue keranjang, sehingga rasanya jauh dari manis. Rasanya justru seperti rasa air mata.”
            Seperti apa rasanya air mata itu? Harusnya Lilian tak perlu lagi bertanya. Lilian  kerap merasakannya ketika ia menangis. Butiran air mata itu akan mengalir dalam mulutnya yang setengah terbuka. Mula-mula air mata itu rasanya tawar. Namun semakin lama akan semakin terasa asin seiring dengan semakin pekatnya kesedihan yang dirasakannya.
Lilian selalu menghabiskan kue keranjang terkecil sampai potongan terakhir. Dan rasanya  tetap saja manis. Sangat berbeda dengan air mata dan ingusnya yang terasa asin di lidah. Kata A Ma, Lilian hanya bisa merasakan asinnya kesedihan di dalam kue keranjang, jika ia telah berhasil membuang rasa sedih yang terperangkap dalam jiwanya. Bagaimana mungkin?  Seperti rasa kesepian, kesedihan selalu menguntitnya sepanjang tahun, sampai datangnya tahun yang baru.

“A Ma bilang juga apa? Habiskan kesedihanmu sebelum tahun baru tiba! Karena jika saat sinchia tiba kau masih bersedih, kesedihanmu akan awet sepanjang tahun!” Begitu selalu pesan A Ma di hari terakhir sebelum sinchia tiba.
            Lilian mengangguk meskipun tahu ia tak akan bisa. Perasaan kosong yang dialaminya tak pernah bisa dihilangkannya semudah ia menyantap potongan-potongan kue keranjang. Perasaannya semakin senyap setiap kali A Ma menjawab ketus pertanyaannya, tentang mamanya.
            “Mama kau telah menjadi hantu. Dan orang yang telah jadi hantu tak perlu disebut-sebut lagi namanya di rumah ini, apalagi disembahyangkan! Mengerti tidak?”

            Lilian mengkerut mendengar jawaban A Ma yang selalu sama itu. Sudah lama sekali, Lilian belum pernah bertemu lagi dengan mamanya. Mungkin sejak ia masih belum sekolah. Lilian samar-samar teringat, hari terakhir ia bersama Mama. Waktu itu menjelang tahun Baru Imlek seperti saat ini. Tangannya yang mungil digandeng Mama menuju Kelenteng. Sepulang dari Kelenteng, Mama menangis dan masih saja menangis saat mengemasi pakaian dalam sebuah koper. A Ma marah, namun Lilian kecil tidak tahu alasan kemarahan A Ma. Yang ia tahu, sejak saat itu mamanya tidak pernah kembali ke rumah.

A Ma bilang, Mama sudah mati. Tapi di mana kuburnya? Tidak pernah ada penjelasan pasti dari A Ma. Bahkan, secuil potretnya pun tak pernah dijumpai Lilian. Ia telah mencarinya di setiap sudut rumah. Di bawah kasur, di bawah meja sembahyang, di balik pigura-pigura foto yang terpasang di dinding, semuanya nihil. Kata A Ma, mamanya telah menjadi hantu. Dan hantu, tak perlu dipasang potretnya di dalam rumah. Bisa membawa sial. Begitu rapatnya A Ma menyimpan rahasia tentang Mama, di sudut paling gelap dalam hatinya, sehingga Lilian tak pernah bisa untuk menyentuhnya.
            Seseorang pernah mengatakan bahwa mamanya cantik seperti dirinya. Bermata sipit, rambut lurus dan kulit putih serupa pualam. Seseorang yang mengatakan bahwa ia harus menjadi seorang ibu, jika ingin mengenal sosok mamanya. Namun cerita itu tak sanggup menutupi kekosongan dalam jiwanya.

            “Bagaimana cara membuat kue keranjang dengan rasa air mata?” tanya Lilian suatu ketika.
             “Kau tuang cairan tepung beras ketan ke dalam cairan santan dan  gula yang telah mendidih dalam wajan, sambil terus diaduk! Teteskan sedikit demi sedikit kesedihanmu dalam adonan!”
            Kalau semua kesedihan sudah tertuang dalam kue keranjang, maka Lilian tidak akan merasa sedih lagi. Kebahagiaan akan menyertainya sepanjang tahun hingga tiba waktunya menyambut tahun baru berikutnya. Begitulah pendapat A Ma.
            Lilian telah memutuskan untuk mencoba membuat kue keranjang dengan rasa yang berbeda. Ia telah membeli dua kilogram tepung beras ketan, satu setengah kilogram gula merah, satu setengah kilogram gula pasir, santan, dan bahan-bahan yang lainnya.

            Ia hanya tinggal mengumpulkan kesedihan demi kesedihan yang puluhan tahun telah bersemayam dalam jiwanya. Menuangkannya sedikit demi sedikit dalam adonan kue keranjang yang akan dibuatnya. Lilian tak mau A Ma mendapat malu, karena air matanya yang terus menetes saat hari sinchia tiba.
            Acara ‘Gelar Tuk Panjang, Sedepa jadi Sehasta’ selalu bisa mengumpulkan keluarga A Ma, baik kerabat dekat maupun kerabat jauh. Mereka akan makan bersama di meja panjang dengan posisi saling berhadapan di tanggal satu bulan satu. Acara yang melambangkan persaudaraan dan kebersamaan ini, bisa menyatukan kerabat dekat maupun jauh. Tapi tak pernah ada Mama dalam acara itu. Itulah yang membuat Lilian tak bisa menanggalkan kesedihannya.
            Setelah bahan-bahan yang akan diolah sudah siap semua di meja dapur, Lilian pun berdiam diri sambil memejamkan mata. Ia berharap Thian Ti (Kaisar Langit) akan mengirimkan Cuo Sen (Dewa Dapur) untuk membantunya mengumpulkan kesedihan-kesedihan dalam jiwanya. Lilian berharap agar semua kesedihan yang dirasakannya, akan terperangkap selamanya di dalam kue keranjang yang akan dibuatnya.

            Dinyalakannya api, sambil mengingat-ingat wajah mamanya. Kegagalan membuat kesedihan itu datang dan mengeja wantah menjadi butiran-butiran air mata. Diaduknya air santan dan gula di dalam wajan, dengan air mata yang terus menderas dan jatuh satu demi satu ke dalam wajan.
            Lalu dimasukkannya tepung beras ketan yang sudah dicairkan, sedikit demi sedikit. Ia selalu cemburu kepada Ling, Han Han atau saudara-saudaranya yang memiliki orang tua utuh. Kecemburuan yang melahirkan kesedihan dan air mata. Adonan yang diaduknya semakin pekat.
               Bayangan seorang lelaki berkelebat dalam pikirannya. Lelaki penjaga kelenteng yang selalu menghiburnya dan meyakinkan dirinya bahwa suatu saat ia pasti akan bertemu dengan mamanya. Lelaki itu kini tak pernah menjumpainya lagi, setelah pertemuannya yang terakhir tiga bulan lalu. Air matanya semakin membanjir dan adonan di depannya semakin beraroma asin.
            “Kamu harus percaya kepadaku,” ucap lelaki itu. Lilian memutuskan untuk memercayai lelaki itu, seperti selama ini ia telah menaruh kepercayaan terhadap A Ma. Pun saat ia meminta sesuatu yang seharusnya dijaga oleh Lilian, dengan rela Lilian memberikannya. Lilian pasrah, bagai rembulan yang tertusuk ilalang.

            “Kau akan menjadi seorang ibu, dan selanjutnya kau akan bertemu dengan sosok seorang ibu, yakni di dalam dirimu sendiri,” hibur lelaki itu. Lilian mengangguk. Ia masih terus berharap bahwa lelaki itu akan terus mendampinginya sampai saatnya ia menjadi seorang ibu. Namun seperti juga mamanya, lelaki itu tiba-tiba menghilang. Lilian panik. Apalagi melihat reaksi A Ma.
            “Kau mengulang lagi kisah lama Mamamu. Maaf jika A Ma harus mengatakan hal ini kepadamu! Karena mungkin sebentar lagi, A Ma harus menganggapmu  sebagai hantu.”
            Lilian terengah-engah, menuntaskan kesedihan terakhir yang diperas dan ditumpahkannya ke dalam adonan. Tubuhnya menjadi lunglai, bagai selembar kain lap pel yang terjelepak di sudut dapur. Sementara jiwanya melayang-layang. Jiwa yang tak diberatkan oleh kesedihan lagi. Kesedihan seluruhnya telah tertumpah di dalam kue keranjang yang baru saja matang dan dicetaknya dalam tiga cetakan bundar berukuran tak sama.
            Suara A Ma yang memasuki rumah menyadarkan Lilian dari lamunan. Sepertinya A Ma pulang dari kelenteng bersama dengan seorang wanita. Perempuan itu berjalan dengan muka tertunduk di belakang A Ma. Lilian terkejut. Wajah itu mirip sekali dengan wajahnya, hanya saja lebih tua beberapa belas tahun.

            “Jadi Lilian sudah…”
            “Dengan kerinduan ingin bertemu denganmu yang dibawanya sampai mati,” ucap A Ma sambil mengangguk.
            “Aku Ibu yang jahat Ma… Aku telah menelantarkan anak itu!” tangis perempuan itu sambil menutup mukanya.


            Jadi ternyata Mama bukan hantu, dan justru sekarang akulah yang hantu. Pikir Lilian sambil mengelus perutnya. Ia tersenyum dan bersyukur, karena tak harus menyia-nyiakan calon anaknya, seperti yang telah dilakukan mamanya selama ini. Jika nanti mamanya mencoba kue keranjang yang telah dibuatnya, Lilian tak tahu pasti. Manis atau asinkah yang akan dirasakan oleh lidah perempuan itu? 

Kebun Kelapa Bapak - Suara Merdeka

Jadi, kebun kelapa itu akan dijual untuk kepentingan pakde Parsidi pergi ‘ngulon’ – menjalankan rukun Islam yang kelima. Kebun itu sebelumnya memang milik bapak. Warisan dari simbah untuk anaknya yang wuragil. Kebun yang berdampingan dengan kebun milik pakde Parsidi, anaknya simbah yang pertama. Kedua kakak bapak yang lain tidak mendapatkan warisan karena meninggal dunia sewaktu masih bujang. Namun semenjak bapak menggadaikan kebun itu kepada pakde - demi kelanjutan studyku di Perguruan Tinggi – surat tanah kebun kelapa itu akhirnya dikuasai pakde.

            “Beruntung Pakdemu masih mengijinkan Bapak mengambil niradari pohon kelapa yang tumbuh di kebun itu,  Le.  Jadi simbokmu masih bisa menitis dan mengolah legen menjadi gula merah untuk sangu kuliahmu. Begitupun dengan kelapanya,” begitu kata bapak saat melepas surat tanah demi mendapatkan pinjaman uang sepuluh juta rupiah, agar aku bisa merasakan bangku kuliah.
            Bapak memang lelaki Jawa tulen, yang selalu memandang setiap anugerah atau musibah dari sisi baiknya. Saat kecil aku pernah terserempet sepeda motor hingga kakiku patah. Bapak malah berkata bahwa masih untung cuma kakiku yang cidera, bukan nyawaku yang melayang ke alam baka. Pun saat bajing-bajing mulai berkeliaran menyambangi buah kelapa kami, menghabisi daging buahnya - menyebabkan buah kelapa menjadi jomblo tanpa isi. Bapak hanya berkata bahwa mungkin bapak kurang bersedekah, sehingga alam mengambil kembali hasil bumi kami melalui tupai-tupai itu. Untunglah beberapa hari kemudian datang kang Midi Kachir yang memburu kawanan tupai dengan senapan anginnya. Dia bagaikan pahlawan bagi pemilik kebun kelapa seperti kami.

            Pohon kelapa di dalam kebun bapak rata-rata sudah tua, legen/nira yang dihasilkan tak lagi bisa memenuhi bumbungyang dipasang bapak di tangkai manggar. Dan bapak selalu gagal melakukan peremajaan terhadap pohon kelapa di kebunnya. Aku tak pernah tahu penyebabnya, namun tunas kelapa yang ditanam bapak selalu mati, sebelum pupus daunnya sempat melebar menentang cahaya matahari. Berlainan betul dengan kebun milik pakde Parsidi. Tunas kelapa yang ditanam pakde selalu bisa tumbuh dengan subur. Di saat bapak menebangi pohon yang telah tua untuk dijual glugu/batangnya, pakde justru bisa memanen lebih banyak kelapa dari pohon yang tidak diambil niranya.

            “Urip iku wang sinawang Le, kehidupan orang lain bisa saja tampak bahagia menurut pandangan kita. Namun bisa jadi pandangan kita salah,” begitulah kalimat yang selalu bapak ucapkan diikuti dengan ajakan untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Gusti Allah. 
            Namun saat kebun yang tergadai itu benar-benar dijual sama pakde, aku benar-benar tak bisa menerimanya. Apalagi hanya dengan alasan sepele, yakni karena bapak tidak bisa melunasi hutangnya kepada pakde tepat waktu. Ke mana hilangnya rasa persaudaraan itu? Apakah luntur tergerus zaman yang disesaki dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan materiil ini?

            Seharusnya tidak semudah itu pakde memutuskan untuk menjual satu-satunya aset yang dimiliki bapak. Mengingat rumah limasan yang kami tinggali pun terletak di bagian kebun sebelah depan. Kalau tanah itu benar-benar dijual, lantas kami mau tinggal di mana? Bapak terlalu naif dengan mengatakan bahwa kelak aku pasti akan menjadi orang sukses, yang bisa membeli apapun yang kumau. Maka saat pakde mengetuk pintu rumah untuk mengatakan maksudnya, akulah satu-satunya anak yang menentang. Kedua adikku meringkuk di kamar tengah dalam dekapan simbok. Sementara bapak sendiri hanya mampu bersedekap sambil tertunduk gamang.

            “Kalau memang kebun bapakmu tidak boleh dijual, ya kamu harus melunasi hutang bapakmu, Le!”
               Seperti diguyur kuah  jangan ndesoyang biasa dibuat simbok untuk menemani nasi liwet, saat mendengar ultimatum dari pakde. Pedasnya tidak hanya memerahkan telinga, tetapi tembus sampai ke hatiku, menimbulkan nelangsa berkepanjangan. Terbayang kuliahku yang pasti akan berhenti di tengah jalan, karena tidak ada lagi sumber kehidupan yang bisa dipakai bapak untuk membiayainya. Masih terngiang jelas pesan almarhum simbah putri(nenek) saat aku masih kecil.
Le, kamu jangan mau hanya menjadi wong nderes (tukang mengambil nira pohon kelapa). Kamu harus sekolah yang tinggi supaya jadi orang yo Le...
Kalau tidak ingat bahwa aku ini adalah anak lelaki bapak satu-satunya, aku pasti sudah menangis. Tapi untuk apa? Hanya memberi contoh yang buruk kepada adik-adikku. Sependek ingatanku, pakde memang tidak pernah bersikap manis kepada bapak. Demikian juga terhadap simbah putri. Mulanya aku tak tahu mengapa bisa demikian. Setelah aku besar, simbok memberi tahuku bahwa pakde Parsidi dan bapak memiliki satu ayah tetapi lain ibu. Pakde Parsidi merasa tak adil jika simbah kakung (kakek) mewariskan kebun kelapanya kepada bapak,  dengan luas yang sama pula.

Sejak simbah putri tiada, sikap permusuhan yang ditunjukkan pakde semakin menjadi-jadi. Saat simbok membuat geplak (makanan kecil dari kelapa muda) dan srundeng (lauk berbahan dasar kelapa) untuk dijual, pakde Parsidi ikut-ikutan menyuruh mbokde Parsidi mengolah dan menjual makanan yang sama. Simbok tak mempermasalahkannya. Simbok yakin, rejeki ada yang mengatur. Justu mbokde Parsidi yang merasa malu hati dan tidak enak dengan kelakuan suaminya.
“Bagaimana? Kamu sanggup melunasi hutang bapakmu sekarang?” Pertanyaan pakde mengagetkanku dan memaksa kepalaku untuk menggeleng lesu.
Maka, akhirnya kebun kelapa bapak pun terjual untuk sangu pakde Parsidi pergi naik haji. Para tetua kampung dan sebagian besar penduduk kampung berduyun-duyun ke rumahpakde untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Sementara hanya segelintir orang yang mengantarkan keluargaku, pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil.  
 
“Ikhlas Le, ikhlas. Semuanya milik Gusti, dan akan kembali kepada Gusti...”
Tetapi sungguh, kata-kata ikhlas itu gampang diucapkan tetapi sangat sulit untuk dijalankan. Kuliahku terpaksa berhenti di tengah jalan. Sebagai sulung, aku harus ikut memikirkan kelanjutan pendidikan adik-adikku. Dan penyebab kandasnya cita-citaku adalah pakde. Larangan dari swargi (almarhum) mbah putri, agar aku tidak menjadi wong nderes, justru seperti menjadi sebuah doa. Aku benar-benar menjadi seorang pengambil nira, di kebun milik pakdeku sendiri. Aku harus menelan pahitnya kenyataan, bahkan saat sedang menelan air nira yang sangat manis.

“Berikan doa yang terbaik untuk pakdemu Le,” pinta bapak.
Simbok memberikan bekal serantang srundeng untuk lauk, seandainya selama menjalankan  ibadah, pakde merasa tidak cocok dengan lauk yang disajikan catering hotel. Namun bekal itu ditolak olehnya. Pakde sudah membawa bekal srundeng dari kelapa yang dipetik dari kebunnya sendiri, dan dimasak oleh istrinya sendiri.
“Tidak usah membekali macam-macam. Kalau kalian cuma mau minta didoakan saat aku di depan Hajar Aswad, nanti  aku doakan. Tapi ingat, doa saja tidak cukup. Pintu rejeki akan terbuka kalau kita mau berusaha. Kau kira kekayaanku jatuh sendiri dari langit?”
Begitulah pakde Parsidi. Aku harus menutup telinga kanan dan  kiri, kalau tidak mau sakit hati. Sebentar lagi akan ada gelaran Haji di depan namanya. Mungkin nantinya akan lebih banyak lagi nasehat- nasehat berbumbu kata-kata pedas, yang keluar dari bibir pakde. Sebagai keponakannya, aku hanya butuh gumpalan kapas yang lebih tebal, agar bisa mengangguk-angguk dengan hati yang tetap dingin.

Sore itu, sepulang dari nderes, lamat-lamat aku menangkap suara tangisan mbokde Parsidi di ruang tamu sempit dalam rumah yang dikontrak bapak.
“Aku harus memintakan maaf atas segala kesalahan suamiku kepada keluarga kalian,” ucap mbokde tersendat-sendat.
“Iyo, iyo De, tak seorang pun di dunia ini yang luput dari berbuat salah. Justru karena itulah Gusti Allah telah membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampun. Tentu saja aku sebagai manusia biasa telah memaafkan segala kesalahan Kang Parsidi itu....”

Masih banyak lagi kata-kata yang terucap dari bibir bapak, ditingkah sedu sedan dari bibir mbokde Parsidi. Setelah tangisnya agak reda, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu yang justru mengagetkanku. Bahwa sebenarnya sejak dulu, pakde Parsidi-lah yang sengaja mengguyurkan satu jerigen besar minyak tanah ke pupus kelapa yang ditanam bapak, hingga pohon kelapa itu layu dan mati. Pakde juga yang memengaruhi para tengkulak agar membeli dengan harga rendah, kepada kelapa-kelapa dari kebun milik bapak. Sehingga simbok memutuskan untuk mengolah kelapa yang muda menjadi geplak dan kelapa yang tua menjadi srundeng.Intinya mbokde Parsidi sangat takut kalau-kalau Pakde belum sempat bertobat, karena sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi...

“Memangnya apa yang terjadi dengan Pakde?” tanyaku masih belum mengerti akan makna pengakuan mbokde di antara sedu sedan tangisnya.
“Pakdemu telah berpulang Le. Saat sedang makan, Pakde tersedak oleh parutan kelapa

 dalam srundeng yang kumasak sendiri.” Mbokde kembali menangis. Sementara aku hanya 

mampu tertegun sambil menatap kedua bumbung di tanganku yang penuh berisi air nira

6.3.17

Tentang Truly dan Aroma-Aroma - Jawa Pos


Hari itu, Truly, tiga tahun yang lalu, seorang perempuan beraroma jeruk dan temannya yang beraroma melati memesan dua cangkir kopi di kafeku. Aku yang mendadak tersengat ingatan tentangmu karena aroma melati itu, memutuskan menyingkir ke sudut ruangan dan meminta Gi mengiringiku menyanyi dengan pianonya. (Kau tahu, Truly, sejak kita berpisah, betapa sulitnya menghindar dari bayang-bayangmu.) Dan aku tak habis berterima kasih pada Stevie Wonder, karena Lately terasa sangat pas dan sesuai dengan apa yang kurasakan saat itu.

            “Kau pasti sudah lama patah hati,” suara lembut di telingaku membuatku menegakkan punggung. Aku waspada menghirup udara. Hanya ada aroma jeruk segar.
            “Aku lihat kau bernyanyi lebih untuk kesenangan pribadi. Mau mencoba menjadi wedding singer?”
            Aku tertawa getir. “Maaf, Nona. Aku sudah cukup sibuk mengelola kafeku ini.”
“Dan aku adalah pelanggan setiamu, kalau kau belum tahu. Aku suka semua makanan dan minuman di sini. Aku suka memerhatikan kesepian di wajahmu. Aku suka lirih suaramu saat menyanyikan Truly di meja sudut milikmu itu.”

            Mungkin aku cukup terkesan dengan keterusterangannya, hingga mengiyakan permintaan tak lazim itu. Walau, awalnya, bernyanyi di pesta pernikahan bagiku hanyalah keisengan pembunuh kejemuan. Tapi, lama kelamaan, aku menikmatinya. Mungkin juga, karena kau terasa sangat dekat di pesta-pesta pernikahan itu, Truly. Jiwamu seakan ikut menyelinap di antara aroma melati yang mengambang di udara.
            Hari ini, Truly, di ruangan dingin yang dipenuhi aroma bunga, aku kembali dikelilingi ingatan tentangmu.

            “Pengantin pria suka lagu-lagu Stevie Wonder. Itu biar jadi bagianku. Kau siapkan saja lagu-lagu Lionel Richie. Itu permintaan dari pengantin perempuan.” Lea, perempuan bersuara lembut dan beraroma jeruk itu, sudah menjelaskannya sejak  dua bulan yang lalu.
“Siapa nama pengantinnya?” aku spontan bertanya.
“Andrew dan Andrea. Bukankah nama mereka mirip dan terdengar manis saat diucapkan bersama?”

Nama yang manis saat diucapkan bersama. Mungkin, hal itulah yang tidak kita miliki hingga kita berpisah. Truly dan Dian. Memang bukan padanan yang terlalu serasi, kukira. Seperti kesan pertama yang timbul saat kita pertama kali bertemu. Kau masih ingat, Truly? Ketika aku terus bertanya padamu, tak berperasaan.

“Truly? Benar itu namamu?”
Mungkin, itu pertanyaan sama ketiga yang kulontarkan sambil terus menatapmu dalam waktu sepuluh menit. Kau merengut tak senang.
“Ada yang salah dengan namaku?”
Aku buru-buru tersenyum, menyadari kekeliruanku. “Tidak ada. Namamu manis, mengingatkanku pada Lionel Richie.”
Kau mengernyitkan keningmu. “Dan kau, Dian? Benar itu namamu?”
“Ada yang salah dengan namaku?”
“Tidak ada. Hanya mengingatkanku pada ibuku. Bedanya, kau ganteng.”
Sejak saat itu, kau tak pernah keberatan bila aku menyanyikan Truly untukmu. Kita sama-sama tahu, bagaimanapun, lagu itu menggambarkan dengan tepat perasaan kita yang tumbuh setiap harinya.
“Aku akan membayarmu untuk menyanyikan lagu itu di pesta pernikahanku kelak,” ucapmu saat nada Truly untuk pertama kalinya usai kunyanyikan untukmu. Matamu berembun, namun kau tertawa manis.
“Apa kau sanggup membayarku?”
“Sebut saja. Aku akan menabung dari sekarang.”
Aku tertawa. “Aku hanya akan menyanyikan Truly untuk pengantinku sendiri.”
Mungkin, kita tak seharusnya terlalu bahagia, karena saat rasa itu tercerabut sungguh menyakitkan.

Suara tepuk tangan yang meriah menghalau ingatan masa laluku tentangmu. (Ingatan yang, dengan tidak sopan, terus datang tanpa ampun di sepanjang lagu yang kunyanyikan.) Kini, di tengah gumamam dan gelak tawa manusia, denting sendok yang beradu dengan piring, dan desir gaun yang saling bergesek, aku seperti kembali menemukan dirimu, Truly. Entah berapa banyak perempuan yang beraroma sama sepertimu di ruangan ini.

Lea meremas tanganku kuat. “Semua orang terpesona padamu,” bisiknya keras di telingaku, mengimbangi suara yang memenuhi ruangan. “Bahkan Andrea, sang pengantin perempuan. Ia menatapmu tak berkedip. Aku sungguh takut ia akan melompat turun lalu mengajakmu kabur bersamanya.”
Aku tertawa, sedikit nelangsa mendengar gurauan Lea.
“Pengantin pria punya lagu permintaan khusus untuk kita nyanyikan bersama,” kata Lea dua minggu yang lalu. “You Are the Sunshine of My Life. Kau tahu, lagu-lagu cinta seperti mantra pengikat di antara sepasang kekasih.”

Dan, sepertinya, harus kutambahkan juga, di antara mantan kekasih.
Mungkin, hari ketika aku harus melepaskanmu, adalah kenangan yang ingin aku hapus. Tapi, nyatanya, ingatan itu seperti kaset rusak di kepalaku, yang terus berputar berulang-ulang tak mau berhenti.   
“Apa yang sesungguhnya kau takutkan?” suaramu sangat tenang saat itu. Walau, aku tahu kau sekuat tenaga menahan perasaanmu menghadapiku yang keras kepala dan bebal.
“Bebanku sudah cukup berat, Truly. Aku tidak akan menambahnya dengan harus mengurus seorang istri,” kataku sedikit kejam. Entakan napasmu seperti suara pisau tajam yang menggaris permukaan kaca. Membuatku ngilu dan nyeri.
“Beban? Apakah itu yang kau pikirkan tentangku? Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kalau aku bisa menerima keadaanmu, mengapa kau sendiri tak bisa?”

Tidakkah kau mengerti, Truly? Dengan kondisiku sekarang, aku seperti burung yang kehilangan sayapnya. Kecelakaan tunggal mobil yang kukendarai itu, telah memaksa ibuku untuk bergantung di kursi roda selama sisa hidupnya. Aku harus bertanggung jawab. Untuknya, dan juga diriku sendiri (walau ibuku berkali-kali mencoba meyakinkan bahwa semua itu adalah takdir, dan aku tak perlu merasa begitu bersalah). Aku mencoba melanjutkan hidup, meski untuk itu, aku harus rela melepas impianku bersamamu. Apakah kau pikir semua itu akan mudah kujalani?

“Kau berhak hidup lebih bebas dan bahagia, Truly. Bertemu pria yang tepat. Seseorang yang dapat menatapmu dengan pesan cinta, juga mampu menemukanmu yang tersesat di tengah keramaian.”
“Bukankah hati dapat melihat lebih tajam dari mata?”
Benarkah? Tapi, kupikir hatiku sakit teramat parah, sehingga tak lagi mampu merasa. Keputusanku sudah bulat, dan kita berpisah. Kau mungkin tak bisa membayangkan kekosongan yang kuhadapi di tahun-tahun setelahnya. Saat ibuku kemudian berpulang, meninggalkanku sendirian. Hanya kesunyian dan kegelapan yang berusaha kujadikan teman akrab.
Hingga kemudian Lea hadir.

Perempuan itu tidak beraroma melati sepertimu, melainkan jeruk yang segar. Mungkin, karena itu ia seperti suntikan yang membangunkanku dari tidur panjang. Namun, ia juga perempuan yang menyukai banyak aroma. Hingga, aku belajar untuk menerima bahwa cinta bisa datang lewat harum mawar, lili, rumput, hingga kopi. Membuatku bertanya heran, mengapa cinta beraroma melati mampu terus memasungku selama sembilan tahun terakhir?

“Duduklah dulu. Setelah giliranku, bersiaplah untuk lagu terakhir. Ingat, aku sudah menunggu saat ini begitu lama!” Lea berbisik di telingaku, menyeret kesadaranku kembali ke pesta pernikahan ini. Aku hanya tersenyum mendengar suaranya yang gelisah.
Sementara Lea membawakan For Your Love dengan teramat manis, aku kembali termenung mengingat peristiwa 18 jam yang lalu. Aroma melati yang lembut menyergap penciumanku saat seseorang memasuki ruangan. Lea sedang keluar, hingga hanya aku yang berada di kantor jasa Event Organizer miliknya itu.

“Aku mencari Lea,” suara perempuan beraroma melati itu bergetar, seperti datang dari tempat yang jauh dan asing.
“Ia sedang keluar. Tapi, saya bisa membantu dan menyampaikan pesan Anda.”
Perempuan di hadapanku terdiam lama. Ia berdiri tenang, seakan sedang menghitung detak waktu. “Tolong sampaikan padanya, jadikan Truly sebagai lagu terakhir, sesuai keinginanku. Jangan sampai salah. Ia pasti mengerti maksudku.”
Lea mondar-mandir, tegang dan gelisah, saat aku ceritakan pesan perempuan beraroma melati itu.

“Dasar perempuan keras kepala. Andrea itu! Kau tahu, Dian, awalnya ia tak percaya kalau aku—kita—yang akan menyanyi di pernikahannya. Ia pikir, aku terlalu serakah dan pelit untuk mencari penyanyi lain yang bagus.”
“Lalu?”
“Ia pernah hampir memutuskan kontrak karena khawatir pestanya akan berantakan kalau aku sibuk bernyanyi, walau aku yakin alasan sebenarnya karena ia meragukan kualitas suaraku. Kuputarkan video saat kita bernyanyi di pernikahan Shahnaz di Bali. Wajahnya langsung pucat. Ia setuju, dengan syarat Truly harus dinyanyikan olehmu, bukan olehku.”
“Kau tahu betul perasaanku tentang menyanyikan Truly di depan umum,” aku berkata tak senang.
“Aku tahu, Dian. Aku tahu.” Lea mendesah, terdengar berat dan letih. Ia merebahkan kepalanya di bahuku.
 “Mengapa kau tidak pernah mau menyanyikan Truly sejak kita bersama?” Lea berbisik, lalu mulai terisak. Tentu saja, aku tidak pernah bercerita kalau lagu itu akan selalu mengingatkanku padamu, Truly. Menyanyikan lagu itu hanya akan memanggil kenangan yang tak perlu.
“Tidakkah kau sadar, tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari aku harus bersaing dengan seseorang di hatimu? Bahwa kau selalu berbisik Truly di tidurmu setiap aku beraroma melati?”
Ah, aku sungguh bodoh, bukan? Mencoba menyembunyikan sesuatu dari makhluk berjenis hawa. Seharusnya aku tahu hal itu akan sia-sia.
“Nyanyikan Truly untukku di pesta Andrea besok, Dian. Aku mohon. Jadikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang pertama.”
Kau tahu, Truly, Andrea juga nama yang pantas untukmu. Meski dulu kau tak menyukainya.

“Truly adalah panggilan kesayangan dari ibuku. Nama Andrea hanya akan mengingatkanku pada lelaki yang telah meninggalkan kami. Aku membenci ayahku. Lagi pula, aku pastilah orang yang berbeda bila memutuskan memakai nama itu.”
Kau benar, Truly. Saat ini, aku yakin, kau dan aku telah berubah menjadi dua orang yang berbeda. Aku menyadarinya saat kita berhadapan dalam jarak yang begitu dekat di ruangan Lea kemarin. Meskipun kecelakaan itu telah mencuri penglihatanku, tapi hatiku ternyata masih mampu mengenalimu. Dan kita memilih untuk tetap berdiri tegak di garis kita masing-masing, walau udara seakan berusaha keras untuk menarik kita merapat.

Oh, entah seperti apa ia yang telah merengkuhmu dalam keyakinan pernikahan (aku sungguh berharap kalian bahagia). Kau tahu, Truly, ia yang beraroma jeruk juga telah menyadarkanku. Bahwa waktu sembilan tahun sudah terlalu lama untuk menahanmu dalam ruang-ruang anganku. Aku harus melepaskanmu sepenuhnya kini.
Lamunanku terputus saat Lea memanggilku untuk mengisi lagu terakhir.
Truly
Because I’m truly, truly in love with you girl. I’m truly, head over heels with your love. I need you, and with your love I’m free. And truly, you know you’re alright with me....[1]

Ruangan yang luas dan dingin ini dipenuhi gumaman suara-suara. Beragam rasa menguar dan bercampur di udara. Gelisah, tanya, bahagia, sesal, cinta. Telah kunyanyikan lagu itu untuk pengantinku. Dengan jelas dapat kurasakan, Truly, di tempat yang tak terpisah jauh, kau dan Lea menangis bersamaan. [*]




[1] Lagu Truly diciptakan oleh Lionel Richie, di album Lionel Richie (1982).